Hari ini adalah hari kedua saya di Moscow. Saya bangun pukul 6 GMT+3 dan belum ada yang bangun selain saya, karena disini masih sangat gelap dan waktu subuh pun pukul 8 GMT+3. Agaknya saya bangun sepagi itu karena di Indonesia sudah pukul 10 (jadi jatuhnya bangun siang dong ? hehe)
Menjelang siang, Rahmi, Hans dan Moses datang. Mereka adalah mahasiswa Indonesia yang belajar di Ufa dan akan sama-sama bertahun baru an bersama saya di Moscow. Kami ngobrol-ngobrol dan Rahmi masak lodeh dan bakwan yang enak, lalu kami makan bersama-sama.
Jam 11 kami bersiap-siap keluar untuk mengantarkan saya registrasi kedatangan di tempat yang saya ga tau gimana cara ngucapinnya, apalagi nulisnya :p Begitu keluar gedung apartemen, angin dingin dan salju menampar-nampar muka, sakit rasanya tapi yasudahlah. Kami harus jalan super hati-hati, bahkan saya yang biasanya jalan sangat cepat harus jalan lambat-lambat agar tidak jatuh, karena jalanan sangat licin.
Kami naik Tramway ke stasiun Metro terdekat, tiketnya dibayari oleh Moses. Saya terkagum-kagum oleh teman-teman saya ini yang bisa dengan lancarnya komunikasi in Russian dengan sangat lancar, dan berusaha menangkap setiap kalimat Rusia yang mereka keluarkan, tapi hasilnya saya hanya terbengong-bengong..
 |
| Halte Tramway |
 |
| Di dalam Tram |
 |
| interpol tuh maret tapi |
|
Setelah mengantarkan Hans pulang ke rumah salah satu diplomat, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Metro. Di stasiun metro, semua orang kelihatan terburu-buru dan kita harus bergerak sangat cepat. Hari pertama kedatangan, saya sudah mengalami bagaimana rasanya didorong oleh laki-laki berbadan besar ketika saya berhenti berjalan karena kelelahan membawa koper. Bagaimanapun, saya masih terkagum-kagum dengan kedalaman dan kecuraman stasiun Metro disini dan kecepatan Metro itu sendiri (maklum biasanya saya naik kereta gejes gejes dari Bogor-Jakarta super lambat)
 |
| Nih tinggi banget kan |
|
|
 |
| Di dalam Metro |
Setelah turun naik metro dan jalan kaki kedinginan, (Moses sempat jatuh terduduk tapi dia kuat sekali, hanya pakai converse dan gak pakai sarung tangan padahal hari ini menurut saya super dingin, bahkan ranting-ranting berubah jadi ranting es) , kami sampai di tempat registrasi. Saya pikir tadinya berupa kantor pemerintahan, rupanya hanya ruangan kecil dengan 2 orang pegawai, kira-kira seperti biro jasa di Indonesia. Setelah menyerahkan berkas-berkas dan membayar 400 Ruble (sekitar 120 ribu rupiah) kami menuju KBRI untuk menonton final AFF. Di kantin KBRI saya makan soto daging yang enak sekali dan gratis. Sampai disana, rupanya acara menonton bola super sepi sehingga kami memutuskan pulang dan nonton di apartemen saja. Di perjalanan pulang, Rahmi mengajak saya untuk membeli yoghurt di semacam dairy shop, dan gila, yoghurt nya enaaaak sekali. Paling enak sepanjang sejarah peryoghurtan saya (halah)
 |
| KBRI |
 |
| Ranting yang beku |
Sesampai di apartemen, sudah ada Bang Fai, Kang Asep, Danny dan Teh Marty yang sedang beres-beres rumah dan memasang tempat tidur. Saya dan Rahmi langsung ambruk karena lelah dan kami hanya mendengarkan pertandingan final AFF saja tanpa melihat ke layar. Saking capek dan badan remuk, rasanya saya gak nafsu makan, walaupun wangi ayam yg skrg sedang dimasak Rahmi enak sekali.
Wanna sleep soon, sambil duduk juga gak masalah deh, karena disini masih penuh orang.
Pamit mundur dulu ya, wish me a good day tomorrow. Nighty night :)
KBRInya bagus ya raaa... hahaha.. ranting bekunya seram juga.. kyk dilapisin kaca gitu.. wish u have a great new year there.. :)
ReplyDelete